
Siapa tak kenal Ousmane Dembélé, rising star dari Liga Perancis dan datang kembali sebagai seorang bintang di Liga Perancis (Ligue 1). Berkembang dari klub Stade Rennes, dilirik raksasa Bundesliga Borussia Dortmund dan pindah pada tahun 2016 (https://www.bola.net/champions/kisah-transfer-ousmane-dembele-dari-gagal-di-2015-hingga-rekor-145-juta-euro-ke-barcelona-85140f.html).
Bersama Dortmund, Dembélé menjelma menjadi salah satu bakat ternama sebelum era Ansu Fati ataupun Lamine Yamal. Statistik Goal.Com menunjukkan dari 42 pertandingan baik lokal maupun internasional bersama “Die Borussen”, dirinya mengoleksi 17 gol dan 8 asis (https://www.goal.com/id/pemain/o-dembele/karier/ckaqxlw257qzj8vjdumvwbaad). Barcelona mengincarnya sebagai pengganti Neymar yang hengkang ke PSG, yang menghebohkan jagat bola pada waktu itu, dan dibeli dengan mahar 135.5 juta Poundsterling (https://www.bola.net/champions/kisah-transfer-ousmane-dembele-dari-gagal-di-2015-hingga-rekor-145-juta-euro-ke-barcelona-85140f.html).
Namun, perjalanan di Barcelona sendiri tidaklah menyenangkan. Meski menjadi bagian dari skuad pemenang Piala Dunia 2018 bersama Perancis waktu itu (bersama sesama rising star Mbappé, juga Paul Pogba), di Barcelona, dirinya hanya dikenal sebagai “pesakitan” di ruang ganti. Transfrmarket mencatat dari 2017-2023 (https://www.transfermarkt.co.id/ousmane-dembele/verletzungen/spieler/288230), Dembélé absen 799 hari tidak berada di lapangan dan lebih sering berurusan dengan cedera, hingga sering disebut “pesakitan” karena sering keluar-masuk ruang operasi. Meski begitu, ia berhasil menyumbangkan trofi La Liga musim 2017/2018 dan 2020/2021 serta Piala Super Spanyol di 2019 dan 2023.
Pada 2023, ia pun dipinang PSG dengan mahar 50,4 juta Euro (https://www.antaranews.com/berita/3678378/ousmane-dembele-resmi-gabung-psg-dari-barcelona), kembali ke liga yang membuatnya bersinar di awal perjalanannya. Bersamaan dengan itu, PSG juga merekrut salah satu pelatih kenamaan, Luis Enrique. Dibawah asuhan Enrique, PSG menjelma menjadi salah satu yang ditakuti di Eropa, dan Dembélé menjadi senjata mematikan PSG setelah kepergian Mbappe ke Real Madrid, bersama dengan Désiré Doué di lini serang PSG. 2 musim bersama PSG, Dembélé memberikan 7 piala penting untuk PSG, dan menjadi bagian quadraple winner musim 2024/25 dengan berhasil meraih Liga Perancis, 2 tipe Piala Perancis, dan trofi bergengsi Champions League, yang juga menjadi sejarah pertama PSG. Awal musim 2025/26, ia juga membantu PSG meraih piala Uefa Super, membuat PSG meraih 5 trofi dalam 1 tahun kalender.
Dengan prestasi itu, ia pun pada akhirnya dinobatkan sebagai pemenang Ballon d’Or, mengalahkan Lamine Yamal yang juga fenomenal bersama Barcelona karena berhasil meraih treble.
Dari Dembélé, kita banyak belajar, terkadang di tempat yang tidak tepat dan tidak mendukung kita tidak akan berkembang, hanya di tempat dan bersama orang yang tepat pada akhirnya membuat kita bersinar. Juga, dari sisi mental dan sikap kita diajarkan untuk terlatih, terus berusaha, mau untuk berjuang terus hingga pada akhirnya kita bisa jadi seorang pemenang.
Le respect pour Dembélé. Jika terus konsisten, bukan tidak mungkin tahun depan ia bisa memenangi Ballon D’or 2x berturut-turut, membuat rising star Lamine juga harus mencari cara bagaimana bisa membawa Barcelona untuk bisa lebih hidup dan merebut title Ballon D’or dari diri Dembélé.
Respect and honor from deep of my heart,
Antonius
Leave a comment