

Nama brand “SOLARIA” pasti sudah tidak asing didengar di telinga. Dengan stigma WOM (‘Word of Mouth’) yang muncul : Murah-Kenyang-Enak, Solaria bisa hinggap di segala sektor pelanggan di segala usia, mulai dari muda sampai yang tua. Tapi, ada satu hal yang cukup ikonik dari Solaria, yaitu mempertahankan identitas penggunaan pensil dan kertas ‘order’ meskipun sudah ada kode QR untuk melihat menu secara visual, ataupun saat berada di kasir sudah ada layar yang menyajikan tampilan menu jika customer tidak/belum mengambil kertas ‘order’.
Namun, apa yang sekiranya mendasari Solaria untuk menggunakan metode pensil-kertas di saat ada restoran yang memfokuskan diri pada buku menu ataupun pemesanan secara mandiri melalui mesin?
Mencoba menanyakan kepada pramusaji Solaria, mereka menjawab itu hanya bagian dari SOP (Standar Operasional Perusahaan). Namun, jika menerka-nerka, berikut gambaran yang saya bisa visualisasikan terkait mekanisme pensil-kertas order yang dipertahankan :
- Identitas => Dengan tidak berubahnya penggunaan pensil-kertas, maka itu menjadi suatu identitas unik, mendadakan pensil-kertas hanya menjadi tanda dari Solaria, ditengah gempuran modernisasi yang terjadi.
- Mengurangi human error => Dengan customer memegang dan menentukan sendiri, membuat kesalahan pemesanan akan menjadi berkurang, dengan kepastian pemesanan hanya akan langsung berurusan dengan kasir yang menginput.
- Efisiensi => Pensil-kertas akan sangat berdampak ketika ‘traffic’ pengunjung sedang naik, menghemat waktu dalam pengaturan tempat duduk dan penginputan pada sistem.
Sekiranya, itu menurut saya yang jadi bagian mengapa Solaria masih tetap memakai “Pensil dan Kertas Order”.
Stay hungry,
Antonius
Leave a comment