
Belum lama sore ini, ketika sedang ‘scrolling’ Instagram, aku ada melihat salah satu konten yang sedang viral, dimana ada seorang anak kecil bersama dengan seorang perempuan paruh baya, sedang memakan ‘pastry’ Auntie Anne’s (https://www.instagram.com/auntieannesid/) yang sekilas tampak berlokasi di Lippo Mall Puri, Jakarta Barat. Namun, sesaat setelahnya, anak tersebut membuang ‘pastry’ yang tampak sekilasnya adalah rasa ‘Cookies&Cream’ (https://www.tiktok.com/@mamiayuyu/video/7553594370256063755).
Coba mencari tahu, ternyata perempuan baruh baya itu adalah seorang konten kretator Tiktok dengan nama akun mamiayuyu, yang ternyata merupakan Ibu dari seorang konten kreator terkenal saat ini, Willie Salim (https://www.instagram.com/p/CsfYFYELoDn/?img_index=1).
Tindakan ini sangat disayangkan, mengingat makanan adalah hal yang sakral dan penting untuk umat manusia, baik itu bersifat makanan pokok atau ringan. Pihak Auntie Anne’s pun juga turut menyesalkan tindakan itu, mengingat hal tersebut dilakukan di depan toko yang membuatnya, padahal setiap ‘pastry’ yang dibuat diusahakan oleh para pegawai agar sesuai dengan SOP yang dijalankan (https://www.tiktok.com/@nikita_febriyani/video/7556245694831414544).
Tak hanya itu saja, konten dilanjutkan dengan makan di Solaria yang besar kemungkinan berada di lokasi yang sama. Namun, tingkahnya dari pada anak kecil tersebut juga seakan tidak menghargai tempat dan makanan yang disajikan (https://www.tiktok.com/@mamiayuyu/video/7554005575365872908). Meski pada akhirnya sang anak yang diketahui namanya adalah Lilis (https://www.tiktok.com/@villie94/video/7556070918032723207) melakukan permintaan maaf, tapi apa yang dilakukan tetap memicu komentar panas dari ‘netizen’.
Jika melihat hal ini, seharusnya konten yang disajikan punya value, informatif, jadinya orang-orang yang menonton atau melihat sebuah konten menjadi teredukasi. Jika fokusnya hanya viral saja, dengan mengabaikan value-isi-‘attitude’, maka konten yang dihasilkan akan bersifat sembrono, dan konten makanan dibuang menjadi contoh. Jika saja sebelum memulai konten, Bu Ayu bisa memberitahu Lilis untuk berperilaku dengan baik, maka ke-‘viral’-an ini mungkin tidak akan terjadi.
Semoga apa yang terjadi, bisa memberikan gambaran untuk kita semua, dalam pembuatan konten atas sebuah topik banyak yang harus disusun dan dipertimbangkan, meskipun tayangan secara langsung dilakukan. Jangan sampai hasil konten yang ada justru menimbulkan kesan buruk, bahkan bisa membuat orang lain mentalnya jatuh.
Stay positive,
Antonius
Leave a comment