




Satu hari lepas sudah setelah Indonesia dipastikan tidak lolos ke Piala Dunia 2026 dan menyudahi perjuangannya di ‘Round’ 4 Kualifikasi Piala Dunia. Memang tulisan ini mungkin terkesan telat, tapi ini juga adalah bentuk refleksi diri dari pribadi yang juga sedang tidak fit serta harus belajar untuk ikhlas setelah harus menerima keadaan yang sebenarnya menyakitkan.
Tepat dua tahun perjalanan dimulai, 12 Oktober 2023 dan berakhir juga di tanggal yang sama, 12 Oktober 2025. Dari ‘round’ 1 hingga ‘round’ 3, perjalanan bergejolak, amunisi bertambah hingga sampai pada terjadinya peristiwa pergantian pelatih menuju sisa akhir ‘round’ 3. Memang, Indonesia masih bisa lolos ke ‘round’ 4, tapi proses yang terjadi di ‘round’ 4 ini sungguh mengecewakan. Susunan pemain yang dipakai di pertandingan 1 – ‘round’ 4 yang di luar ekspektasi yang berujung kekalahan 3-2 dari Arab Saudi, dan tidak matangnya taktik untuk pertandingan ke-2 melawan Irak yang pada akhirnya membuat Indonesia kalah dengan skor 1-0 yang membuat perjalanan Indonesia SELESAI.
Hal ini tentu sangat menghancurkan mental para suporter Indonesia, dimana kebanyakan orang yang setiap harinya jika ada ‘Timnas Day’ semua orang berhiruk pikuk senang bukan main dibuat runtuh seketika. Belum lagi ada kejadian pada pertandingan terakhir melawan Irak yang saya tidak mau ulas dalam tulisan ini (kalau nonton pertandingan dan ‘highlight’ setelah pertandingan hari Minggu kemarin pasti tahu kondisi apa yang dibahas – https://www.instagram.com/reel/DPsAdr0EvBw/). Hal tersebut pada akhirnya membuat seseorang membuat cuitan di status Whatsapp yang berbunyi : “Begini kalau menyerahkan mimpi Garuda pada seseorang yang tidak tahu bagaimana cara seorang Garuda bermimpi.”
Tidak ada jaminan pelatih sebelumnya BISA/PASTI akan membawa tanah Pertiwi ini tampil di pentas tertinggi dunia, tapi fondasi yang dibangun, strategi yang dipoles sedemikian rupa, tentu sudah diperhitungkan dengan matang, terlebih lawan-lawan yang ditemui Indonesia bukanlah sembarang tim nasional.
Evaluasi pasti harus dilakukan, mengingat Indonesia akan tampil di Piala Asia 2027 tanpa harus melewati fase kualifikasi, dan membangun ulang dengan lebih rapi untuk Piala Dunia 2030 untuk mengobati perasaan yang terluka di 2025 ini.
Dari kasus ini kita bisa banyak belajar, terkadang bertahan dengan komposisi yang sudah ada dan cukup matang lebih baik daripada bertindak gegabah untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi. Semua butuh waktu, butuh banyak pembelajaran, butuh proses untuk bisa membangun ‘chemistry’ satu sama lain. Kendala yang ada di dalam memang patut untuk dibenahi, tapi dalam keadaan penting harus bisa dinilai mana yang harus diambil lebih dulu.
Hal ini tidak hanya untuk sepakbola, tapi untuk kita sendiri juga bisa dijadikan pelajaran terutama dalam bekerja di situasi yang tidak menentu sekarang ini.
* Untuk teman-teman yang ingin mengerti lebih terkait pembahasan taktik dan juga kondisi saat pertandingan, bisa menonton ulasan dari beberapa konten kreator berikut :
# https://www.youtube.com/watch?v=mw8s4GBabCw – Bung Harpa
# https://www.youtube.com/watch?v=Yi239z7aa74 – Tommy Desky
# https://www.youtube.com/watch?v=nwMFGonm4i4 – Bung Binder
# https://www.youtube.com/watch?v=JTidRAPNxF8&t=526s – Hanif Thamrin
Stay Healthy – Stay Sportif,
Antonius
Leave a comment