

Saat ini kita mendapati kabar duka yang datang dari seorang mahasiswa yang meninggal akibat bunuh diri, namanya Timothy Anugerah Saputra, mahasiswa FISIP Universitas Udayana – semester 7 – Program Studi Sosiologi, yang ditenggarai akibat di-‘bully’ teman-temannya.
Dirinya diketahui melompat dari lantai 4 gedung FISIP Kampus Udayana, 15 Oktober 2025 pukul 09.00 WITA. Bahkan dalam satu akun Youtube, entah bagaimana caranya mendapatkan informasi itu, ditampilkan bahwa saat setelah Timothy meninggal, para pem-‘bully’ mencerca dan menjadikan itu sebagai bahan goyunan, dan ada ‘statement’ dari pihak kampus yang menyatakan percakapan terjadi setelah dirinya meninggal.
17 Oktober 2025 di halaman depan Gedung FISIP Udayana, diadakan doa bersama dan dari gambaran situasi yang dibicarakan dalam kalimat yang ada di vidio (ada di Instagram FISIP Udayana) menunjukkan bagaimana jati diri Timothy yang polos, antusias, bersemangat.
Entah apa yang dirasakan, ditahan oleh seorang sosok yang penampakannya mirip seperti saya sewaktu mau lulus kuliah, terlebih dalam IG pribadinya terdapat kalender semesteran yang menunjukkan bahwa ada satu target pada masa kuliahnya : “mencari teman”. Jujur miris mendengar dan melihat apa yang terjadi. Sebagai sesama anak FISIP, pikiran dan hati terasa sakit mendengar hal ini. Tidak adakah hati nurani dari para pelaku? Tinggal 1 semester lagi untuk dirinya bisa lulus kuliah dan bekerja, tapi hal itu tidak terjadi. Karena sikap dan ego dari segelintir orang yang menganggap dirinya lebih baik dan superior dibanding seorang sosok Timothy.
Kasus ini perlu diusut tuntas, dan perlu ada sanksi tegas pada para pelaku, tidak hanya akademis, tapi kalau memang diharuskan untuk ‘drop-out’, maka kampus harus berani melakukan itu. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi setidaknya harus berani mengambil langkah tegas akan hal ini, agar tidak ada korban lagi yang berjatuhan.
Banyak hal terkait proses komunikasi dan empati yang masih harus kita banyak belajar, berkaca banyak pada kasus ini. Contoh : “AH ELAH GITU DOANG!” – “ya ampun, tinggal pencet aja masa nggak bisa baca” – “go***k amat info gitu aja nggak ngerti” – “eh si gendut lewat tuh”. Kata-kata seperti itu mungkin kita harus banyak kurangi, mengapa? Kita nggak tahu betapa susahnya perjalanan, beban seseorang. Kita nggak tahu beban mental yang dialami diri yang kita singgung. Jadi, kasihi dan hargailah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Rest in Peace – Timothy.
Terima kasih atas kehangatanmu meskipun saya tidak mengenalmu.
Antonius.
Sources material :
- https://mediaindonesia.com/nusantara/821856/kisah-timothy-anugerah-korban-bullying-di-unud-dan-kronologi-kasusnya
- https://www.detik.com/bali/berita/d-8164393/polisi-ungkap-mahasiswa-fisip-unud-lompat-dari-lantai-4-bukan-lantai-2
- https://www.instagram.com/p/DP70Ld-EsMg/?img_index=1 – https://www.instagram.com/p/DP7qoOwEoau/?img_index=6 (Homeless Media)
- https://www.instagram.com/p/Cg5zJtZpQBB/ (Instagram Pribadi Timothy)
- https://www.instagram.com/fisip_unud/ (Instagram FISIP UD.)
- https://www.youtube.com/watch?v=fgD-VUu1H4Y&rco=1 (Youtube IKY RH)
- https://www.instagram.com/bemfkp_unud/, https://www.instagram.com/himapolfisipunud/ (Instagram organisasi)
- https://www.instagram.com/univ.udayana/ (Instagram Univ UD.)
- https://www.liputan6.com/regional/read/6188732/rektor-unud-bicara-sanksi-6-mahasiswa-meski-sudah-minta-maaf-usai-cibir-kematian-teman-lewat-chat
Image sources :
- IG Univ UD.
- Foto pribadi (sewaktu pas foto untuk ijazah).
Leave a comment